https://youtu.be/Nj3es3y0eHA?si=M7ZlD6HmIEAb0oAQ
💕Mereka, Kebanggaan Keluarganya💕
(Ku Ingin Bercerita Episode 5 )
Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Ada kisah tentang orangtua, ada kisah tentang saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang banyak bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui KS Story Episode ini..., mereka bisa berbagi kisah, ___tentang keluarga.
Begini ceritanya;
Hujan mengguyur dapur MBG kami dengan derasnya, membasahi kaca jendela kaca ruangan distribusi. Rintiknya jatuh berirama, aku menulis kisah mereka di balik hembusan angin malam yang muram. Di luar..., petir sesekali menyambar, menggelegar bersahutan dengan deru angin. Namun anehnya, di dalam ruang kaca ini, aku justru merasa tenaang. Kopi hangat di meja kecil mengepul pelan, sementara aku bersandar di tepi sofa biru tua, membuka awal cerita yang berjudul “Garis Takdir Si Anak Yatim Piatu”. Aku tersenyum kecil. Judulnya terasa akrab.
*Bagaimana Si Anak Yatim Piatu Itu Membangun Keluarganya?*
Beberapa tahun yang lalu, di mana tahun yang sangat berat untuk Rebi dan Ibunya. Ayahnya meninggal karena sakit, memang sudah beberapa tahun belakangan itu ayahnya harus berobat. Ibunya pun mulai sakit-sakitan, dan sampai waktunya tiba, __beliau pergi dengan tenang. Rebi adalah Kepala Gudang di Dapur MBG kami. Ia suka menyebutkan namanya bila hendak berbicara kepada keluarga kami. Artinya ia sangat, __ sangat sopan. Kerjanya bagus...., teliti, mampu berkomunikasi dengan stakeholder, kelihatan sekali ia sangat bertanggung jawab.
Semalam, sembari bekerja mencek-cek barang masuk, ia bercerita pada KS begini; "Oh iya kak KS, Ayah dan ibu Bi adalah sosok yang Bi banggakan selalu. Karena orang tua Bi mulai sakit-sakitan, sampai waktunya tiba, beliau pergi dengan tenang. Bi amat sangat kehilangan sosok yang Bi banggakan selama ini, kak. Tapi meskipun begitu, hidup harus terus berjalan. Sederhana saja, Bi sebagai anak laki-laki di rumah, Bi harus sangat dekat dengan saudara dan keluarga Bi yang lain. Dan sekarang..., Bi bersyukur sekali kak. Kakak KS percaya pada Bi hingga bisa bekerja di Dapur MBG ini. Apakah Kakak KS tahu ada adek Bi juga yang bekerja di Dapur MBG milik kakak? Kakak Bi, juga bekerja di Dapur MBG kerabat kakak lho kak, meskipun ia tidak bisa bekerja di dapur MBG kakak, tapi ia bekerja di Dapur MBG yang lain. Alhamdulillah, MBG yes. Terimakasih Pak Prabowo. Bangga sekali kami memiliki pemilik dapur yang sangat peduli dan saling membantu kehidupan kami. Sejak bekerja di dapur MBG kakak ni, kini Bi tahu kak KS, __Bi tidak pernah benar-benar sendiri. Karena di antara suara hujan dan cahaya redupnya SPPG Banjar Padang, selalu ada doa, kasih..., dan perhatian yang menjelma menjadi rumah tempat Bi bisa kembali, meski tanpa harus pulang. Hehehe. Kakak menjadi guru dan panutan yang baik untuk Bi hingga sekarang. Terimakasih manyak-manyak ya kak KS! Kakak orang baik, sehat-sehat terus ya orang baik🫡!".
Hhhmm. Aku tersenyum kecil. Tahun ini di SPPG Banjar Padang mengajarkanku banyak hal tentang kebersamaan, kemandirian bagi ekonomi orang lain, tentang kesabaran..., kegigihan, dan terutama tentang arti keluarga yang sebenarnya. Keluarga bukan sekadar mereka yang tinggal serumah, tapi juga mereka yang hadir di hati, meski hanya lewat layar kecil dan jarak ribuan kilometer.
Malam itu, hujan turun tanpa jeda. Seolah langit ikut menumpahkan perasaanku yang mengharu biru. Aku masih duduk di sofa panjang biru usang, tepatnya di ruang distribusi makanan SPPG Banjar Padang. Kursi biru usang itu selalu hadir dengan Seribu Janji, tempat di mana dulu kami sering bertemu, aku dan dia. Hehehe.
Cerita berikutnya berjudul; "Rezky Anak Sholeh". Haa...., cerita ini hadir dari Tenaga Official di Dapur MBG kami. Ia juga sebut nama ke badan nya bila hendak berbicara kepada keluarga kami. Artinya, ia hormat kepada kami. Dengar ya kak! ; "Orang tua Mby selalu menanamkan kemandirian sejak Mby kecil. Mby harus bisa berdiri di atas kaki sendiri,” kata Papa suatu pagi, ketika Mby berusia sepuluh tahun dan baru saja belajar menanak nasi. Saat teman-teman seusia Mby masih dimanja, Mby sudah belajar mencuci pakaian sendiri, membersihkan rumah..., bahkan menemani Mama memasak. Mby tidak pernah merasa terbebani. Justru ada kebanggaan tersendiri setiap kali Papa dan Mama memuji hasil kerja Mby. Mama sekarang sakit-sakitan, jadi Mby harus membelikan obat buat Mama, dan Pampers Buat Mama. Meski Mby tidur disini kakak percayakan menjaga Dapur kita, terkadang Mby pulang sebentar ke rumah melihat Mama. Kadang Mby memasakkan sambal untuk Mama, lalu balik ke Dapur MBG ini lagi. Begitulah kak, "Garis Takdir Si Anak Sholeh", hehehe. "Ada Rezky Anak Sholeh di Dapur MBG KS ini", katanya lagi.
Hhmm, malam-malam panjangku memang tak pernah menghadirkan kesepian yang diam-diam menyelinap. Saat mereka bercerita tentang pertengkaran lucu dengan rekan-rekannya, atau tawa hangat bersama tim bagian nya, aku hanya bisa tersenyum. Tak pernah ruang kosong itu ada di dalam dadaku. Aku tahu bagaimana mengisinya. Kadang aku berkata dalam hati; "bahagia sekali hatiku melihat mereka ini. Aku tahu, mereka, kebanggaan keluarganya".
Dan aku...,
Aku tanpa sadar meneteskan air mata. Air mata bahagia itu seketika menetes dipipiku. Lalu aku melihat videoklip ini tanpa kusadari mataku sudah berkaca-kaca. Ada bulir bening di mataku yang tak hendak cepat kuhapus. Ya, dari mereka itulah aku belajar. Bahwa setiap pertemuan bisa menciptakan “keluarga kecil” baru. Merekalah yang tertawa bersama saat aku sedang susah..., kalut..., dan mereka...., mereka juga lah yang diam-diam menghibur aku ketika aku sedang banyak pikiran. Dari mereka..., __aku belajar arti berbagi dan pentingnya dukungan dalam hidup. Ya, dari mereka juga aku percaya. Ketika kita selalu berpikir positif dan selalu berprasangka baik, maka hal-hal baik akan lebih mudah datang kedalam hidup kita.
Hari demi hari berlalu. Aku tumbuh menjadi pribadi yang semakin optimis dan ceria. Ada mereka yang ku buat bahagia, ada sekian keluarga yang rezki nya menempel di bahuku, ada ribuan doa yang mereka panjatkan untuk kejayaanku. Tentu saja aku juga bahagia melihat itu. Oh persoalan orang lain yang dulu pernah meremehkan aku, sekarang telah menguap dan hilang tak berbekas. Aku tidak fokus pada apa kata orang. Aku hanya akan aktif mengikuti berbagai diskusi kebijakan publik saja, berkenalan dengan banyak orang-orang baik, dan menulis di mana pun aku berada. Entah itu di kafe, kebun..., lobi kantor atau ruang tunggu bandara.
Beberapa halaman telah novel kubaca, tapi pikiranku justru melayang ke masa lalu. Tentang seseorang yang pernah membuatku merasa tidak sendirian. Tentang dia yang dulu menulis pesan manis di pagi hari dan menelponku sebelum tidur. Tentang kebersamaan yang kukira akan bertahan lama. Sudah bertahun-tahun aku tahu segalanya tentang dia. Tentang Ayah. Tentang kelembutan wajahnya yang tiba-tiba muncul di foto kenangan FB unggahanku tahun lalu. Tentang pesan singkat yang menjelaskan segalanya dalam kalimat dingin. “Maaf, KS. Aku nggak bisa selalu bersamamu lagi. Kau udah dewasa 25 tahun, maka kau harus bersama pria lain selain aku, pria yang kau pilih itu adalah penggantiku, ialah pembimbingmu kelak jika aku sudah tidak ada lagi disampingmu”. Awalnya aku marah, aku hancur mendengar itu, lalu aku terdiam. Diam yang membekukan dada. Lamunanku pun terputus.
“Hujan-hujanan sendiri? Kamu mau sakit...?” Suara itu memecah lamunanku. Fiel datang dengan payung birunya, napasnya terengah karena berlari. Ia duduk di sampingku, tanpa bicara apa-apa lagi. "Aku mau pulang", kataku. Air mataku akhirnya jatuh, bercampur dengan air hujan yang membasahi pipi. Fiel memiringkan payungnya ke arahku. Lalu berkata lembut, “KS, denger yaaa! Kamu nggak harus kuat terus. Kadang, patah itu juga bagian dari bertahan. Kamu boleh sedih, dan kamu juga boleh marah. Tapi jangan biarin luka ini bikin kamu lupa. Kamu masih punya orang-orang yang sayang sama kamu.”
Aku terdiam. Hanya suara hujan yang mengisi sela napas kami. “Ibumu, para relawanmu, bahkan aku,” lanjut Fiel dengan nada pelan, “kami mungkin nggak bisa gantiin rasa cinta Ayahmu yang hilang, tapi kami bisa jagain kamu supaya nggak tenggelam di dalamnya.”
Kata-katanya terasa seperti selimut hangat di tengah badai. Aku menatapnya, mataku buram oleh air dan tangis. Fiel tersenyum samar. “Keluarga itu nggak selalu tentang siapa yang punya hubungan darah, KS. Kadang, keluarga adalah orang yang tetap tinggal, waktu semua orang memilih pergi.”
Aku menunduk, menatap tanah yang basah. Entah kenapa, di tengah hujan dan luka yang belum kering, aku merasa sedikit lega. Malam itu aku pulang dengan perasaan yang berbeda. Aku memandangi foto keluargaku di meja belajar. Ibu tersenyum kaku, Ayah tertawa lebar, dan aku di tengah mereka. Dan Fiel disamping kanan aku. Dan ada beberapa kerabat disana, keluarga tapi tak lahir dari rahim yang sama. Entah kenapa, foto itu tampak lebih hidup dari biasanya. Aku baru benar-benar memahami bahwa keluarga bukan hanya mereka yang lahir dari rahim yang sama, tapi juga mereka yang membuat kita merasa “pulang.”
Sudah masuk tahun ketujuhbelas aku menetap di kampung, tanah dimana tempat aku dilahirkan. Persis seumuran anakku yang pertama, 17 th. Kami sudah tidak nomaden lagi. Aku memilih resign dari Bank, yang disusul Fiel juga memilih keluar dari Bank BUMN setelah 10 tahun ia bekerja disana. Ohiya. Desa ini sudah akrab di mataku, tapi kadang aku masih terasa asing di hati. Setiap pagi aku berangkat kerja, menembus udara dingin yang khas. Ada banyak hal yang sudah berubah dalam hidupku, tapi rasa sepi tanpa Ayah itu, entah kenapa, __masih sesekali mampir diam-diam.
Kamar tidurku yang dirumah ibuku yang kecil, tapi cukup nyaman. Ada meja belajar yang penuh buku catatan, dinding dengan foto keluarga yang kupajang di dekat jendela, dan secangkir kopi yang selalu menemani malam-malam panjangku. Dari jendela itu, aku bisa melihat lampu-lampu SPPG Banjar Padang yang berpendar lembut, seperti bintang-bintang yang turun ke bumi. Tapi tetap saja, ada saat di mana semuanya terasa sunyi.
Kadang aku merindukan hal sederhana, suara Ibu yang memanggilku sahur, teguran Ayah yang karena tidurku selalu kemalaman, atau sekadar tawa hangat di ruang tamu. Rasa rindu itu tidak pernah benar-benar hilang, hanya berubah bentuk. Kini, ia menjadi tenaga yang mendorongku untuk terus belajar dan bertahan.
Selain bekerja di Pemda, aku mengisi waktu dengan belajar buat roti secara online, membuat roti adalah seni dan kebahagiaan. Dan di pagi-pagi hari sebelum matahari terbit, aku menulis online di Kompasiana. Malam harinya aku hanya cek dan ricek aktivitas dapur MBG ku. Kadang mataku tak hendak terpejam, aku mengaktifkan data seluler ponselku. Sesekali aku menyalakan laptop, membuka videoklip nya SPPG Banjar Padang Official, dan menyapa wajah-wajah mereka yang muncul bersenda gurau di grup WAG.
Juga, di sela kesibukan kerja dan tugas-tugas rumah yang menumpuk, __aku juga ikut bercengkrama dan bersenda gurau dengan relawan secara online. Mereka mengolah rasa melalui masakan, kulihat. Setiap hari, mereka selalu berusaha untuk menjalani hari dengan senyuman tanpa ada yang tau serumit dan seberantakan apa didalamnya. Doaku hanya satu, semoga perjalanan mereka ini endingnya adalah kebahagiaan. "Ya Tuhan, lindungilah mereka, __Mereka Adalah Kebanggaan Keluarganya".
You can see! Sometime like this; "Videoklip ini seperti jeda hangat di tengah lelahku. Setiap kali mereka tersenyum, rasanya jarak antara Dapur MBG dan rumahku tak lagi sejauh Tiga Meter. Hanya satu mili. Ada rasa “ingin datang kembali” yang perlahan tumbuh dari setiap salam, setiap tawa kecil, dan setiap ucapan “terima kasih, ya Kak KS.”
Detik-detik berlalu. Ga terasa sudah Subuh aja. Abis subuh tadi, hujan turun lagi. Aku duduk di tepi jendela kamar lagi, menatap butiran air yang berlari di kaca. Kali ini, hujan tak lagi terasa dingin. Ia justru membawa ketenangan seperti tangan lembut Ayah yang menepuk bahuku dulu setiap kali aku gelisah. Lalu aku menulis seketika, ingin rasanya mengekspresikan kreativitas dan cinta pada diri sendiri dan keluarga. Jadilah Episode 5 ini, Ku Ingin Bercerita 💕Mereka Adalah Kebanggaan Keluarganya💕.
Dari mereka, aku menemukan makna keluarga dalam artian lain. Keluarga memang merupakan harta yang paling berharga, keluarga adalah tempat pertama seorang mendapatkan kasih sayang. Tapi ada hal lain dari ajaran Ayahku yang perlu wajib kuingat hingga sekarang, yaitu ; "Jangan pernah meremehkan orang lain! Kita tidak tahu apa yang orang lain kejar. Mereka adalah kebanggaan keluarganya, respect✍️!".
Demikian episode ini. Satu tembang buat kamu semua yang lagi capek buangeet beraktivitas seharian di Dapur Yang Tak Pernah Tidur, ada Anji Dengan judul lagu hitsnya "Menunggu Kamu". Sambil menunggu, dengerin ini. Dan tetap terhubung dengan KS Story yaa😅🙋!
#KSStory #Kuingin Bercerita #Episode5
#MerekaAdalahKebanggaanKeluarganya
#SPPGBanjarPadang

Komentar
Posting Komentar