💕Membangun Mentalitas Sukses di Usia Muda💕 (Kuingin Bercerita Episode 6)
Orangtua modern membangun mentalitas sukses ke anaknya di usia muda. Bagaimana cara berpikir orang tua yang modern itu?
Begini;
Orangtua modern merasa perlu mencetak anak yang mandiri dan dewasa. Maka, mau tidak mau, orang tua modern, __merasa perlu mulai mempersiapkan anak-anak mereka agar mampu mandiri. Mereka mengajarkan bisnis ke anak-anak mereka sedini mungkin. Mereka melibatkan anak-anak mereka dalam Misi Keluarga dan Bisnis Keluarga..., dan mengajarkan entrepreneurship sejak dini kepada anak-anak mereka.
Orang tua modern itu..., cara berpikirnya jarang sekali mematahkan. Mereka akan membantu anak-anak mereka mempersiapkan finansialnya di masa depan tanpa perlu tergantung dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Kenapa demikian?
Karena orangtua modern tau tentang hal ini. "Semakin bertambahnya tahun, persaingan kerja pasti akan semakin ketat. Hal ini diakibatkan makin banyaknya jumlah tenaga kerja, namun kurang diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang cukup".
Orangtua modern tahu, karena saat persaingan pencari kerja semakin ketat, maka sudah waktunya anak-anak mereka lah yang akan menciptakan lapangan kerja kelak, yaitu dengan memiliki dan membangun bisnis sendiri.
Tahukah kamu? Dari mana saya mendapatkan ilmu tentang orangtua modern itu? Ilmu tentang orangtua modern ini diturunkan keluarga Nenek CA pada seluruh keturunannya. Ini tentang nilai-nilai keluarga. Nenek CA dulunya seorang pelaut, ia berdagang menelusuri aliran sungai kuantan dari Lubuk Jambi hingga ke Tembilahan.
Cerita ini kembali terbuka tadi, di meja makan bundar miliknya Nenek CA, ibu saya yang bercerita. Ibu bercerita tentang bagaimana ilmu orangtua modern itu diturunkan dari Nenek CA kepada nya. Ibu bercerita kepada Ara. "Dulu, waktu Nenek sambil bersekolah SMP, saat itu Nenek merantau ikut orangtua. Nenek tinggal di seberang Tembilahan bersama Papa Aditya. Nenek bersama adik Nenek, berjualan apa saja yang kami inginkan, kami inginkan itu, ya itu kami jual. Kami nampak orang punya batang tebu dipekarangan rumahnya, kami beli tebunya. Lalu kami potong-potong tebunya. Kami tusuk-tusuk pakai bambu. Lalu kami pergi nyebrang naik sampan hingga berkeliling sampai ke pabrik kelapa di daerah itu. Tebunya kami jual, abis. Ada-ada saja yang ingin kami jual. Kadang kami jual limau, semangka dan rempeyek. Asal tiba candu berdagang, apa saja kami gas. Hahaha, persis kayak Mama Ara sekarang, semua mau di gas. Terkadang, kalap Mama mu itu🤣. Kadang dia jualan cabai, kadang jagung, tiba-tiba dagang pepaya, dua hari lalu Papa Ara bawa pisang tanduk sekarung nampaknya dari kebun. Eh apa namanya tu pisang terkeren abad ini, Ra? ". "Cavendish, Nek!'". "Ha, iya itu, bawa-bawa lah Ra..., pisang itu ke meja bundar ini, sebelum masuk ke dapur MBG, wwkehkeh!". Ara tertawa terbahak-bahak. "Belum panen, Nek!". Saya pun tertawa mendengarnya. Zaman berputar, dan ketika videoklip ini dibuat, cerita berbalik arah ke zaman dulu.
Ternyata...,
Di era modern sekarang ini, kemampuan berwirausaha tidak lagi hanya relevan untuk orang dewasa, melainkan juga penting untuk diajarkan kepada generasi muda yang tidak kemakan gengsi. Mengajarkan anak berwirausaha sejak dini dapat memberikan banyak manfaat bagi mereka dalam mempersiapkan masa depan mereka. Selain membangun keterampilan finansial, wirausaha juga mengajarkan kemandirian, tanggung jawab, dan kreativitas, yang semuanya penting untuk kesuksesan anak di masa depan.
Cerita yang mengharu biru datang lagi dari Ara dan KS. Berbagai profesi sudah diperkenalkan KS pada Ara. Dalam KS Story episode ini, KS hanya mau share bagaimana suka duka Ara berproses membangun mentalitas sukses dari masa kecil. We start from here.
Tadi KS ceritakan bagaimana keuntungan menjadi seorang wirausaha. Misalnya, dengan berwirausaha kita bisa membantu sesama...., dengan membuka lowongan pekerjaan, kita bisa mengatasi kemiskinan..., serta kita bisa memberikan bantuan kepada orang lain berupa materi. Contoh dapur MBG.
Atau contoh yang lainnya agar Ara tertarik menjadi seorang wirausaha, saya kenalkan kelebihan yang lain. Misalnya wirausaha bekerja sendiri tanpa ada yang menyuruh atau mengatur, karena tidak bekerja pada orang lain. Dan sukses tidaknya wirausaha juga ada pada diri sendiri.
Ohiya, apakah kamu masih ingat bagaimana kamu kecil? Mama sudah ajak Ara berdagang itu sejak umur 1 tahun lho. Mama sudah pernah ajak Ara berdagang barang harian di swalayan..., ingat ga kita dulu pernah jualan ikan sarden ha-ha-ha. Tapi di minimarket. Terus kan, Mama jualan pakaian dan sepatu dimobil gitu sembari Mama kuliah S2, Ara tu masih SD ya? Pulang bawa dagangan ke kantor, pergi ke kampus harus bawa duit tagihan pakaian dan sepatu setiap minggunya sebelum berangkat ke Pekanbaru. Dan yang bikin kita ketawa ngakak tu ya Ra, pas Mama jualan Boxer online. Terus yang beli nya kan teman-teman Mama yang laki tuh. Pas Mama mau antar ke dia ya, dia malu-malu bayarnya sama Mama kan, terus Mama nyeletuk ajah, "apa gua ngerasa perlu nelp bini lu pas antar boxer ini, wkwkwkwka!". "Gua heran KS", katanya si teman pria Mama itu. Ingat ga Ra? Dia bilang apa ; "apapun jualan lu tu ya KS, orang kita mau aja gitu lho, abisnya yang jualan nya lucuuu sih kata-katanya, selain orangnya lucu abis, barang dagangannya juga lucuuu-lucu juga sih motifnya😂".
Sebelum MBG ada, zaman kita lagi jatuh-jatuhnya pas Covid, kita juga dagangan masakan, frozen food, roti dan cake. Delivery order, hehehe. Bahkan kita dagangan hasil tani pernah ya dari pasar ke pasar ya Ra. Sebelum ada toke besar datang yang jemput ke kebun. Semua dijual. Kayak Ara sekarang. Di foto ini, hihihihi.
Gaeess,
Ini foto Ara yang dikirim nya pada official. Penuh sesak muatan mobilnya. Tiap sebentar Ara ditelpon Papanya? "Dimana Ra? Aman di jalan?" Ara pun tertawa-tawa saking penuhnya mobil dengan barang dagangannya. Dan pulang-pulang dari antar jemput roti dan cakes, dia nyeletuk. "Sebentar lagi, awak jualan pisang pulak lagi ni haaa, ke dapur MBG Aditya wkwkwkwk". Lucunya cerita Ara. Kek gituu, cara bermain-main anak KS seraya bisnis menghabiskan waktu sambil jalan-jalan. Hiburan sih sebenarnya, menghilangkan capeknya belajar. Hidup mah ga cuma baca buku doang. Harus seimbang dengan main-main nya. Ya kan? Main-main bisnis misal nya. Lumayan kan? Dapat untung, beli cendol🫣.
Demikianlah, anak unggul terlahir dari orangtua yang cara berpikirnya modern. Orang tua modern membangun mentalitas sukses ke anak di usia muda. Dengan demikian mental wirausaha akan sedikit-demi sedikit melekat pada anak. Anak menjadi memiliki banyak pengalaman. Mulai dari dagangannya yang tidak laku, mendapat respons yang kurang menyenangkan dari teman-teman saya atau menghadapi pembeli yang beragam, baik yang ramah atau sebaliknya. Tapi walaupun barang dagangannya ada juga yang tidak laku, seorang anak yang membantu orangtuanya tetaplah harus diberikan penghargaan atas jerih payahnya.
Saya berikanlah Ara sesuatu yang menyenangkan untuk dia. Seperti ajak makan kebab atau burger di luar, membelikan hp terbaru, tambahan uang saku atau sesuatu yang diinginkannya. Bukan untuk mengajarkan perilaku boros tetapi sebagai bentuk menghargai jerih payah anak saja. Dengan demikian Ara akan merasa senang dan akan belajar menghargai sebuah capaian baik pada dirinya atau orang lain.
Saya membingkai kegiatan anak saya dengan bermain-main bisnis saja. Sedari kecil. Contohnya memanfaatkan kain flanel atau kain perca sehingga bisa bernilai ekonomis. Bisa juga dengan mengajak Ara membuat kue bersama. Dengan demikian anak saya akan ikut berkreasi sesuai keinginannya dan melakukannya tanpa beban.
Momen lebaran, saya ajarkan Ara berbagi. Selain menanamkan nilai mental wirausaha, tidak lupa saya ajarkan anak untuk perduli pada sesama. Saya mengajarkan anak saya menyisihkan rezekinya untuk sesama. Misalnya berbagi dengan teman atau memberikan sedekah kepada teman yang yatim piatu. Saya tanamkan pada anak bahwa di rezeki yang diperoleh, ada hak orang lain yang harus diserahkan. Diharapkan dengan penanaman sikap dermawan, kelak anak saya akan menjadi seorang wirausaha yang dermawan.
Selain itu jika anak terjun langsung di lapangan dengan sendirinya tentu anak dapat melihat peluang apa yang akan dia jual atau diproduksi kelak. Misalnya Ara bisa melihat peluang berjualan alat tulis atau aneka jajan atau mainan dan sebagainya ketika kuliah nantinya. Tentu harapan KS, Ara akan cenderung peka dengan peluang bisnis di sekitarnya kelak.
Ditengah-tengah candunya bisnis, ada juga yang bilang tu. Kejam sekali orang tuanya yaah? Hahaha. Sungguh. Tercengang Saya mendengarnya. Saya langsung bilang what? What's wrong? Saya hanya menyertakan anak saya dalam membuat kreativitas yang menyenangkan mereka.
Bahkan, ada lagi yang enggak orang lain tahu. Selain berdagang, saya ajak terus Ara untuk ikut serta membuat Luti Gendang, Risoles Mayo, Pastel dan Bolu Gulung untuk dijual. Al hasil. Hasilnya lebih memuaskan dari buatan tangan saya ahahaha.
Dan heyyy...
Saya juga memberikan Ara reward, kuq. Saya berikan Ara penghargaan untuk anak karena capaiannya yang tidak biasa. Dia selalu Ketua OSIS, entah itu dari SMP maupun SMA. Pun Ara selalu juara umum 1. Stylenya yang biasa, dan enggak gengsian. Ada juga Guru Kelas di SMA nya yang menganggap Ara yang enggak gengsian itu adalah anak orang susah. Guru itu baru pindah ke SMA Ara belum lama. Dibilang nya di kelas Wulan, klo Ara yang anak pintar itu susah hidup keliatannya. Kata ibu guru itu cerita di kelas Wulan, teman kecil Ara. Hehehe, Emak Wulan terjerembab mengatakan itu kepada Nenek Ara. Kamipun tertawa-tawa sekeluarga dirumah.
Tu lah kan? "Sekarang ibu itu malu Ara rasa Nek", kata Ara tadi di Meja Makan. Ada hari tu, di depan ibu itu pulak, Ibu Epi sengaja bertanya kepada Ara. "Apa menu MBG tadi Ra? Enak-enak menu MBG Ara kata orang, dibilang orang sama ibu". "Ara senyum-senyum aja nyo, nek". Kata Ara. Ha, datang Bapak Rino, " Nah ini dia, CEO MBG yang pernah nyamar jadi tukang cuci ompreng". "Ibuk itu melihat sama Ara, Nek. Berubah memerah mukanya itu. Ara diam aja nyo, biarlah Mak lampir tu bilang gitu dalam hati Ara. Tetap peace ajalah pokoknya hahaha🥳😆!
Dari Ara kita belajar dewasa,
Berbisnis dalam ruang lingkup keluarga adalah sebuah proses berjalannya warisan yang berharga, tetapi tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu kunci utama dalam menjaga keberlangsungan bisnis keluarga adalah mempersiapkan anak-anak sejak kecil untuk dapat meneruskan estafet kepemimpinan dan pengelolaan bisnis tersebut, agar pada waktunya kelak mereka menjalankannya dengan sama baiknya, bahkan lebih baik.
Karena pada waktunya kelak, saya akan menua. Dan anak-anak saya harus siap menerima tongkat estafet, lalu akan berkembang dengan kepemimpinan mereka untuk fase mereka. Mereka lah yang akan membawa bisnis keluarga ini kelak menjadi makin produktif dan berdampak. Semoga Allah meridhoi upaya saya dalam menanamkan nilai-nilai luhur dan mempersiapkan anak-anak saya untuk meneruskan bisnis keluarga. Amin tiga kali.
"Ara ga pa-pa kuq, Nek. Jika harus menjadi tukang antar jemput dagangan Mama sekarang. Toh orang-orang juga pada tahu, Ara sebenarnya seorang CEO dapur MBG milik keluarga KS, wkwk. Dulu Ara owner Aracafe Lubuk Jambi maa, Ara juga bersedia nyo menjadi waitress. So what gitu lho! "
Nyatanya, anak yang memiliki jiwa bisnis, cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, kreatif, inovatif, serta lebih menghargai nilai uang.
Hari ini. Tak hanya orang dewasa, anak-anak usia dini pun senang dengan kegiatan berwirausaha karena hal ini bisa membuat anak menjadi lebih mandiri. Contoh saja, Wulan dan Ara. Wulan juga berdagang kue, dan membantu dagangan ibunya berdagang ikan tamban, kambilih, karasak dan sebagainya. Kami enjoy aja. Ara kan, terlahir dari seorang ibu yang di usia muda nya juga hobby berdagang. Iya, jawab saya. Jauh sebelum Ara lahir. Mama sudah tak terhitung lagi usaha yang berganti merek dagang hingga Ara di usia sekarang. Satu tempat dapur MBG ni aja, sudah ada 7 merek dagang. Pertama Minimarket Azzahra, abistu Azzahra Boutique, Azzahra Baby Kids, Aracafe, KS Caferesto, Gerai KS. Terakhir kami jual Sate Padang wkwkwk. Now, baru MBG😁.
Sekarang, Ara sudah genap 18 tahun. Ara juga sudah terbiasa dengan usaha orang tua yang berganti wajah itu. Jatuh bangun bagi Ara, sudah biasa. Apakah kalian mau tahu bagaimana cerita Ara Family jatuh bangun itu?
Ara pernah merasakan keluarga yang bangkrut berkali-kali. Dibilang bangkrut sih kata orang, padahal ya Ara merasa biasa aja tuh. Bisnis yang hanya berganti wajah demi mencari hoki. Ga pulak keluarga Ara yang susah makan do karena usaha yang berganti wajah itu. Toh Mama Ara Pegawai, ada gaji bulanan, ada tunjangan. Punya kebun, Papa juga punya job lain, Papa orang kontruksi, jarang menganggur meskipun sudah resign dari Bank BUMN. Cuma keluarga Ara emang jarang pamer dan ga cerita banyak hal tentang apapun yang sedangkan kami rencanakan. Ara ga peduli, mau orang lain menyepelekan Ara atau apa. Ara dan mama KS tu ya, emang ga sosialita gitu. Apalagi Papa. Jarang banget mau tampil di kamera. Lebih kepada ga sempat aja kali ya. No face no case.
Ara tau, bagaimana orang-orang menggunjingkan keluarga Ara. Macam-macam. Berkebun kami sekeluarga, ha tulah..., bangkrut karena covid. Yeee, kebun-kebun kami, kami ga berkebun di kebun orang do ya. Heran. Nanam cabai 20rb batang, siapa yang kerjain? Ya orang lah, kan? Masa Papa Ara sendiri, ada-ada aja. Orang dibayar, gitu lho. Mana bisa Papa Ara dan Mama Ara nanam cabai. Pergi ke toko Tani aja beli apa gitu, lupa kalo ga di wa apa yang mau dibeli. Saking ga nyambung nya Mama dengan produk-produk pertanian. Ara buka cafe dulu ya, mana bisa KS masak. Kata orang, dirumah aja tunak maah jarang. Hahaha, ya orang lah yang masak, digaji gitu lho. Terus kami tutup resto kami karena covid, lalu ga bangkit-bangkit. Tenggelam KS, sekarang kata orang. Eh ga lama setelah itu, keluar media online, dah jadi petani aja hahaha. Terkadang entahlah, ngeri komentar netizen. Banyak hipertensinya, eh hiperbolla ding. Hiperbola bangettt nget nget. Hingga pada akhirnya, kami buka Sate Padang. Haa, tercengang pulak orang. ,"Yo, hebat pulo si KS masak nampak nyo, kini lah jualan Sate Padang pulo, wkwkwk". Hhmmm. Awak ni apalah kan, buka usaha baru, pasti kena gunjing🤣.
Ara juga sudah kebal dengan gonjang-ganjing usaha ini. Soalnya, kata Mama KS, "Kita lagi sedang dalam pertandingan bola, Nak. Kalo kita jadi pemain, pasti yang ribut penonton. Ya jadi, kita fokus aja bagaimana memenangkan pertandingan ini. Biar aja penonton yang ribut🤩!".
Dulu ya. Papa Ara banyak dapat proyek, batu pecah nya se gunung di Azzahra Stone Crusher. Dicari-cari salah sama orang, dibilangin perusahaan kita menerima bahan baku ilegallah, yang inilah itulah. Sekarang MBG, eh malah lebih parah lagi sport jantung nya Ara jadinya ahahaha. Mama foto dan videokan roti gembung enam petak, bisa jadi di sabotase dua hari setelah tu menjadi 1 petak doang. Itupun roti gembung nya udah mengempes dan seolah-olah mulai berjamur. Ya klo ga dimakan lebih dari 3 hari ya berjamur lah. Ada Ara lihat, orang posting menu MBG yang di sabotase, tapi yang komentar om Aditya, Mama Ara cuma kasih emot ketawa aja nyo di komentar om Aditya tu. Dalam hati Ara ya. Sayang, dokumentasi nya sudah sampai duluan ke BGN oleh Kak Dita Ahli Gizinya kami. Capek dah yang suka mfitnah, tapi Mama KS tahan banting. Mama KS dah biasa kena badai daaah, jadi kalo kena gerimis dikit, __yoo ga kerasa🤣.
Kata papa, ga bakal kapok mama KS tu klo usaha. Mentalnya mental baja, semangatnya 45. Dia abis baru balek kalah perang dari Aceh tu, wkwkwk. Mati aja yang belum, katanya. Dengar lah sama Ara, pasti dia bilang itu nanti tu.
Ada cerita panjang di balik perjalanan usaha Mama KS tu. Jauh sebelum Ara ada, KS tu sudah membuat usaha Boutique perdana nya di Kota Rengat. Tempat dimana Papa merantau untuk bekerja di salah satu Bank BUMN. Mama KS tu dulu sekolah menjahit tu Ra, sama anak-anak yang putus sekolah gitu temannya yang dia suka. Klo pergi arisan Kantor Bank Papa gitu ya, ga pernah mau datang dia tu. Hahaha, males bergunjing katanya. Ga kelas katanya. Lalu Mama KS buka butiq gitu dulunya karena lambat punya anak, lalu ambil waktu njahit. Terus ada namanya Mega dulu tu, putus sekolah. Dibawaknya bekerja di butiq. Ga sampai 6 bulan butiq itu, ga disangka Mama hamil Ara, 18 tahun yang lalu. Sehingga butiqnya ga bertahan lama, karena selama KS berproses membangun mimpinya, bisnis nya terhenti karena proses persalinan Ara.
Lalu kami bolak balik pulang kampung semasa Ara bayi dalam hitungan 3 bulan. Dua bulan cuma Mama tu sanggup tinggal di Rengat. Mama ga pandai mengurus bayi awalnya. Stres, takut Ara jatuh klo mandiin. Setiap mau mandiin anak, dia nangis tu telp papa, mau pulang kampung saja katanya. Hiiksks. Bodoh Mama Ara tu dulu😂.
Papa inisiatif suruh Mak Amoy datang ke rumah pagi hingga sore. Mak Amoy lah yang kerja dirumah mengurus Ara kecil. Suaminya tukang becak tu, kak Ara. Risau-risau Mama tu di Rengat. Rumah kontrakan kami kecil, kamar yang sempit hanya cukup untuk springbed 2*2 meter ini, pas seukuran kamar itu. Ga muat lemari di dalamnya hahaha. Terus kan, Mamamu cuma dorong dikit sama kakinya itu pintu, nah tu? Ketutup kan? Saking dekatnya sama kasur kita, wkwka. Dia sebenernya kesel, tapi tetap aja ngelawak😂.
Akhirnya Papa, sambil bekerja di Bank, memutuskan saja untuk memulai usaha memproduksi tangkai sapu di kampung atas arahan Mama KS. Tujuannya biar kita pulang kampung. Sehingga keputusan itu harus dibuat pas Ara lahir, Papa harus meminta pindah tugas ke cabang lain di kampung tempat dimana usaha baru itu dimulai. Klo Papa ga mau pindah, Mama ga mau lagi ikut Papa ke Rengat🤩.
Dia tu males aja bingung, orang dia biasa kerja dan ke kantor, kan. Dia setiap sebentar mengubah cita-citanya tu kak Ara. KS bercita-cita baru pulak tuh, pas Ara umur 5 bulan. Bak gemuruh bak petir aja, dia katanya 3 bulan lagi mau buka minimarket perdana di rumah tempat ia dilahirkan. Dan entah bagaimana caranya dia mengatur Papa, begini katanya, begitu katanya. Alhamdulilah kesampaian juga. Jadilah Minimarket Azzahra waktu itu.
Otomatis, Ara terbiasa dengan cerita bisnis dari kecil. Dan untuk mengasah mental dan kemampuan itu, Ara juga harus siap menjadi entrepreneur cilik. Kesiapan tersebut sudah Ara mulai sedini mungkin, dan sekarang itu bertujuan supaya matang dan dapat memperbesar potensi Ara meraih kesuksesan di masa depan.
Begitulah,
Menjadi seorang wirausaha yang sukses merupakan harapan setiap orang yang senang berbisnis. Tak hanya orang dewasa, kini anak-anak usia dini pun senang dengan kegiatan berwirausaha karena hal ini bisa membuat mereka menjadi lebih mandiri.
KS kenalkan tentang nilai uang kepada Ara secara bertahap, mulai dari yang nominal terkecil hingga paling besar. KS beri Ara pengetahuan mengenai guna dan fungsi uang dalam kehidupan dan bagaimana memanfaatkannya dengan baik supaya Ara bisa memenuhi kebutuhannya. Dengan mengenal uang, Ara akan terbiasa untuk berinteraksi dengan pecahan uang dan operasi matematika, seperti menambahkan, mengurangi, mengalikan, hingga membagi, termasuk menghargai uang dan tidak menjadi jadi generasi yang boros.
Bakat tidak akan berkembang tanpa dilatih. Proses mengenalkan dunia bisnis pada anak harus dilakukan secara perlahan dan penuh pendampingan. Namun, bakat bisnis sering kali muncul sejak anak masih kecil. Dan orang tua modern berpikir dengan membantu anak berani memulai sejak dini, mereka merasa perlu mendorong anak berinteraksi dengan lebih banyak orang.
Agar apa? Agar rasa percaya diri anak tumbuh, mereka akan lebih siap mengambil peluang. Ara, mau ndak mau, memang harus terlibat berbisnis sejak ia mulai bisa berbicara. Karena hari-harinya memang duduk di meja sebelah kasir. Ibunya dulu hanya seorang kasir minimarket, sehingga ia sebagai anak harus tahu diri. Sejak umur 1th itulah, Ara sudah terlatih untuk tidak mudah menangis di depan umum. Dan ia..., juga terlatih untuk belajar tersenyum kepada siapapun.
Sederhana saja konsepnya. Tanpa disadari, KS telah memulai mempersiapkan Ara untuk meneruskan bisnis keluarga kelak. Ini hanya tentang bagaimana seni berdagang itu hendak diturunkan. KS melibatkan Ara dalam kegiatan bisnis apapun sejak kecil. Karena KS tau, Ara akan belajar dari apa yang ia lihat.
Dari kisah Ara, kita ambil hikmahnya.
Berbagai tahapan telah melibatkan anak-anak saya secara dini dalam bisnis keluarga. Sesuai fase usianya. Usia 8-12 tahun. Anak-anak, saya ajak untuk mengamati aktivitas di minimarket, gudang kelontong, gudang kayu, pabrik batu lalu aktivitas di rumah. Kantor, dan balik ke rumah lalu ke kebun. Gituu terus selama bertahun-tahun, hingga sekarang. Semua terdokumentasi dengan baik. Anak-anak saya belajar tentang produk, serta membantu dalam tugas-tugas administratif sederhana. Merapikan nota misalnya.
Usia 13-16 tahun, saya berikan anak-anak tanggung jawab yang lebih besar, seperti membantu dalam pencatatan keuangan, melayani pelanggan, atau terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Saya libatkan mereka dalam pekerjaan ringan di bisnis saya. Misalnya, membantu mengemas barang, menghitung stock, atau mencatat pesanan. Lalu saya berikan mereka upah kecil agar mereka memahami nilai usaha dan proses mendapatkan uang.
Selain itu, diusia 17 th keatas, mereka hanya akan mengenang masa-masa kecil itu. Maka saya tunjukkan pula foto-foto atau video pengalaman mereka yang sedang terlibat dalam aktivitas bisnis keluarga, mulai dari membantu di toko, dan aktivitas di kebun, atau berpanas-panasan di pabrik batu. Ini seru tauuk? Hal inilah yang membangun rasa memiliki dan tanggung jawab mereka terhadap kelangsungan bisnis keluarga.
Diusia anak saya yang sekarang, anak adalah teman. Teman berdiskusi. Saya latih Ara berdiskusi mengenai hal-hal sederhana seperti perbandingan harga barang atau cara mengambil keputusan. Diskusi dalam keluarga akan melatih kemampuan komunikasi, mengemukakan pendapat, berpikir logis, hingga memahami dasar-dasar ekonomi. Anak yang terbiasa berdiskusi, juga akan lebih percaya diri dalam menyampaikan ide-idenya.
Saya buat anak-anak saya agar mau mengemukakan idenya, kemudian tuliskan menjadi sebuah catatan yang harus mereka capai. Jangka waktunya bisa saya tentukan dalam hitungan hari atau minggu. Jika satu persatu target nya sudah tercapai, saya bisa memberikan anak penghargaan agar mereka lebih termotivasi dan semangat untuk mencapai target lainnya. Sehingga anak menjadi terbiasa untuk selalu berorientasi pada target, terutama ketika mereka terjun ke dalam bisnis keluarga.
Selain menanamkan nilai-nilai keluarga dan memberikan pengalaman praktis, saya juga perlu memastikan bahwa anak-anak saya memiliki kompetensi yang memadai untuk mengelola dan mengembangkan bisnis keluarga di masa mendatang. Pendidikan yang relevan.
Pendidikan bukan hanya persekolahan.
Cerita sedikit tentang pendidikan bukan hanya persekolahan ini. Saya, dulunya juga seorang ibu baru yang memulai bisnis baru. Sementara anak saya Ara baru saja beranjak usia 5 bulan, tiada saya bingung bagaimana mendidik anak kecil itu sambil berwirausaha. Padahal ya, saya sedang merintis sebuah bisnis yang super sibuk. Sebenarnya sederhana saja menjalaninya. Saya titipkan saja bayi saya dirumah Ibu saya dan dijaga oleh ibu saya. Lalu saya kan bolak balik ke rumah dari swalayan diganti kan Ayah. Sesekali, saya libatkan saja ananda yang sudah berusia di atas 1 tahun dalam bisnis keluarga, dengan peran yang sederhana. Namun bertahap sesuai usianya sampai kelak ia matang dan dewasa juga terampil se usia ini.
Saya menanamkan nilai-nilai keluarga sebagai pondasi utama bagi suksesnya regenerasi bisnis keluarga. Dengan penanaman nilai-nilai bisnis keluarga sejak dini, sebagai orang tua, saya perlu memastikan bahwa anak saya tumbuh dengan menghayati dan mempraktikkan nilai-nilai atau etika moral yang menjadi “nyawa” bisnis keluarga. Karena itu, saya ceritakan kepada anak-anak saya kisah perjuangan saya, bahkan orang tua saya. Tidak ada bisnis satu pun yang saya warisi dari orang tua. Namun dalam membangun bisnis yang ada, saya selalu menyoroti khusus nilai-nilai integritas, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama. Dan nilai-nilai keluarga itulah yang saya warisi dari orang tua saya. Orang tua saya, termasuk orangtua modern pada zamannya.
Saya tunjukkan pada anak-anak saya, tentang bagaimana warisan nilai nilai keluarga tersebut, telah menjadi fondasi yang kokoh bagi kemajuan bisnis keluarga hingga saat ini. Apa itu nilai-nilai keluarga yang KS dapat dari keluarga besar keturunan Nenek CA?
KS ceritakan di meja makan.
Berbagai contoh nilai keluarga yang perlu ditanamkan oleh Nenek CA sedini mungkin adalah sebagai berikut;
Pertama, Kejujuran dan Integritas. Saya ajar anak-anak saya untuk selalu bersikap jujur dalam setiap tindakan dan perkataan, bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun. Saya tunjukkan kepada mereka bagaimana kejujuran telah menjadi kekuatan bisnis keluarga selama bertahun-tahun.
Kedua, Etos Kerja yang Kuat. Saya tanamkan pentingnya etos kerja yang tekun, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya libatkan anak-anak dalam aktivitas bisnis secara bertahap agar mereka dapat memahami dan menghargai kerja keras yang diperlukan untuk mempertahankan dan mengembangkan bisnis.
Ketiga, Kepedulian Sosial. Saya ajar anak-anak saya untuk tidak hanya mengejar keuntungan bagi diri sendiri dan keluarga, tetapi juga memiliki kepekaan dan komitmen untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Saya latih kepedulian mereka terhadap staf atau pekerja-pekerja, termasuk membantu ketika terjadi keadaan darurat, meski secara material bantuan itu tidak memberikan keuntungan langsung bagi bisnis. Demikian pula, saya libatkan mereka dalam kegiatan amal atau program tanggung jawab sosial perusahaan.
Ya. Tampak sekali, perbedaan cara berpikirnya orangtua modern dengan yang biasa saja. Orangtua modern berbeda cara mendidik anaknya. Mereka tidak memanjakan anak-anak mereka. Melibatkan anak secara bertahap, itu agar anak-anak mereka dapat memahami dan menghargai bisnis keluarga. Ini penting untuk melibatkan mereka secara bertahap sejak dini. Saya juga memulainya dengan memberikan tugas-tugas sederhana yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak, kemudian meningkatkan tanggung jawab anak secara perlahan-lahan.
Orangtua modern, mendorong anak-anak mereka untuk mengasah kemampuan komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan, agar dapat menyampaikan visi dan gagasan mereka dengan jelas. Mereka mengajarkan anak-anak mereka untuk berpikir kritis, mengelola konflik, serta beradaptasi dengan berbagai tantangan yang mungkin muncul di masa depan. Mereka melibatkan anak sebagai pengamat ketika orang tuanya sedang memimpin rapat, memberikan presentasi di hadapan klien, atau mengoordinasikan tim proyek. Setelah itu, orang tua dan anak melakukan percakapan tentang pembelajaran yang dia dapatkan dari pengamatan itu. Cara itu akan menginspirasi anak untuk mengembangkan potensi kepemimpinan yang dimilikinya.
Orangtua modern membangun kepercayaan dan komunikasi antara orang tua dan anak. Dalam proses mempersiapkan anak-anak untuk meneruskan bisnis keluarga, aspek nonteknis yang tidak kalah penting adalah membangun kepercayaan dan komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak.
Saya juga meluangkan waktu secara rutin bersama anak-anak untuk berdiskusi dan berbagi pemikiran mengenai arah dan perkembangan bisnis keluarga. Saya menunjukkan kesediaan saya untuk mendengarkan ide-ide dan masukan dari anak-anak serta menghargai kontribusi mereka. Saya memberikan kesempatan bagi anak-anak saya, untuk mengungkapkan kekhawatiran atau pertanyaan mereka tanpa rasa takut atau malu.
Pada intinya, saya hanya perlu menyediakan waktu secara rutin bersama anak-anak, untuk berbincang santai tetapi terbuka, berkualitas, dan hangat. Membangun kepercayaan anak-anak kepada orang tua, sekaligus kepercayaan orang tua sendiri terhadap anak.
Saya membiasakan komunikasi dua arah dengan cara saya banyak mendengarkan dengan seksama saat anak-anak menyampaikan pendapat atau kekhawatiran mereka. Saya ajarkan anak-anak untuk menerima kegagalan bisnis saya di masa lalu. Bahwasanya, kegagalan adalah bagian dari proses belajar, __termasuk dalam berbisnis.
Anak perlu memahami bahwa bisnis bukan hanya soal sukses, tetapi juga tentang cara berpikir dan keberanian mencoba. Dengan saya pernah gagal, mereka belajar mencari strategi baru dan berpikir lebih kreatif. Dari kegagalan masa lalu juga, saya tanamkan pada anak-anak saya, bahwa risiko adalah bagian dari perjalanan. Dan setiap pengalaman orang tua mereka, akan memperkuat karakter mereka.
Saya tahu, dalam mempersiapkan anak-anak untuk meneruskan bisnis keluarga adalah sebuah proses yang membutuhkan perencanaan, kesabaran, ketekunan, dan kasih sayang yang tulus. Dengan menerapkan pendekatan yang seimbang antara aspek praktis dan spiritual, harapan saya, __saya dapat membantu generasi penerus tumbuh menjadi pemimpin yang tangguh, berintegritas, dan mampu membawa bisnis keluarga ini kepada masa depan yang cerah.
Orangtua modern akan menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada anak-anaknya. Selain memiliki kompetensi teknis, generasi penerus bisnis keluarga juga perlu dibekali dengan jiwa kepemimpinan yang kuat. Anak-anak harus dilatih untuk berani mengambil keputusan, memimpin tim, dan mengelola perubahan dengan bijaksana.
Problem hari ini bukan kurangnya anak pintar dan terampil, namun kurangnya anak yang mandiri dan dewasa pada waktunya, kurangnya kemampuan leadership dan memikul tanggungjawab. Kedewasaan yang tidak tiba pada waktunya, akan menyebabkan turbulensi dalam kehidupan. Kesenjangan antara organ biologis dan otak yang sudah teraktifasi bak orang dewasa, namun jiwanya masih berupa jiwa anak-anak dengan fitrah yang tak tumbuh baik. Itu problem hari ini.
Maka, bagi para orangtua modern, __pendidikan bukan tentang persekolahan semata. Justru pendidikan yang utama adalah membuat anak tumbuh fitrahnya dengan paripurna dipandu oleh orang tua sehingga menjadi berbahagia, bertanggungjawab, dewasa, adil dan beradab. Beradap pada Agamanya..., pada Dirinya..., pada AyahIbunya, pada Keluarganya, pada Alamnya, serta pada umat sekitar nya.
Percayalah,
Melibatkan anak dalam bisnis keluarga adalah pendidikan nyata. Bisnis keluarga apalagi yang selaras dengan Misi Keluarga adalah hal yang paling baik untuk melibatkan anak, selain membuat anak menjadi bagian penting dari keluarga, juga mereka melihat keteladanan langsung dari bagaimana Ayah dan Ibunya berjibaku berjuang merintis bisnis dari awal dan melihat bagaimana keimanan itu melekat dalam bisnis, bukan sekedar bisnis untuk bisnis mencari uang atau mengejar profit tanpa keimanan atau misi langit atau misi keluarga yang kokoh.
Misi Keluarga tentu bukan misi misian capaian sukses dunia, namun harus terkait dengan keyakinan atau keimanan untuk menolong ummat, untuk menyerukan kebenaran, untuk melakukan perubahan yang Allah ridhai pada suatu bidang spesifik kehidupan. Inilah misi langit keluarga KS.
Misi Keluarga KS adalah suatu yang menggebu gebu ingin dilakukan di jalan Allah, misalnya menolong anak yatim agar mandiri, memakmurkan tetangga dengan professional, melestarikan alam dengan bertani, membantu pemuda agar memiliki bisnis yang sustain dan inovatif, menyediakan makanan halal & thayyieb dengan cafe organik, menebarkan Ilmu baik dengan pendekatan yang mudah, mengkampanyekan pemikiran yang benar dengan tulisan, memberdayakan desa dengan energi terbarukan dsbnya.
Nah dari sinilah Bisnis Keluarga KS dirintis dan dibangun. Jadi bisnis bukan tentang mengejar omset yang tiada akhirnya, namun tentang bagaimana mendeliver solusi terbaik bagi ummat dengan ihsan atau professional untuk mewujudkan misi langit keluarga.
Jangan khawatir, sekecil apapun skala bisnis, jika berangkat dari misi keluarga yang merupakan misi langit, maka ia seperti atom, kokoh dan dinamis, kelak ledakannya akan dahsyat bagi kemashlahatan ummat dan akhirat. Ingatlah bahwa kehebatan itu tak bisa diajarkan atau dikursuskan, namun ditularkan dengan keteladanan nyata. Maka mendidik anak itu sesungguhnya tentang bagaimana Ayah dan Ibunya mampu memerankan fitrahnya juga Misi Langitnya dengan sungguh sungguh.
Semoga anak-anak kita, kelak menjadi generasi peradaban yang tangguh, adil dan beradab dengan peran peradaban terbaiknya sesuai fitrahnya untuk peradaban yang lebih mulia. Dengan kiat-kiat KS di atas, harapan nya anak kita akan bermental entrepreneur yang akan membangun negeri ini menuju kemandirian ekonomi.
Begitulah cara berpikir orangtua modern itu, orangtua modern membangun mentalitas sukses di usia muda. Apakah kamu setuju dengan itu?
#KuinginBercerita #Episose6
#MembangunMentalitas
#SuksesDiusiaMuda #ksstory
#mbg #sppgbanjarpadang
Komentar
Posting Komentar