TENANG DI USIA JELITA
Oleh : Selpi Keswita
Usia menjelang 50 tahun, ini bukan lagi tentang ingin mengulang waktu, __tapi memberikan makna pada waktu yang tersisa. Aku berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Di usia ini, aku sadar setiap orang punya jalannya sendiri.
Dulu, mungkin aku merasa tertinggal karena teman sudah punya jabatan ini dan itu. Tapi sekarang, aku lebih memilih bersyukur dengan apa yang aku miliki dan nenikmati hidup tanpa tekanan.
Iya. Aku mengurangi ambisi yang melelahkan. Bukan berarti aku berhenti berkembang, tapi aku lebih memilih yang membuat hati ini damai.
Dulu, aku ingin semua targetku tercapai sekaligus. Hehehe. Tapi sekarang, cukup fokus pada pekerjaanku yang stabil dan aku punya waktu untuk keluargaku. Aku menikmati hal-hal sederhana..., kebahagiaanku tidak lagi datang dari hal-hal besar. Justru kebahagiaan itu malah datang dari hal-hal kecil. Menikmati kopi pagi misanya. Aku bisa ngobrol santai dengan pasangan..., atau duduk tenang tanpa gangguan. Ini terasa sangat berharga.
Aku belajar melepaskan hal yang tidak bisa aku kontrol. Semakin dewasa, aku jadi semakin paham, __bahwa tidak semua hal harus kupaksakan. Aku tidak lagi memaksakan hubungan yang toxic..., dan aku juga ga terlalu memikirkan penilaian orang lain. Lebih dekat dengan diri sendiri dan rasa syukur.
Benar rupanya, ketenangan datang saat aku berdamai dengan diri sendiri. Aku sejak dulu rutin refleksi diri, bersyukur setiap malam, dan menerima masa lalu tanpa penyesalan berlebihan.
Di usia menjelang 50 tahun itu, __hidup bukan lagi tentang siapa yang paling cepat atau siapa yang paling tinggi. Tapi tentang siapa yang paling bisa menikmati perjalanan ini dengan hati tenang.
Yups. Ketenangan itu bukan datang dari luar, tapi dari cara kita memandang hidup.
KS, Kuansing, __24 Juni 2026
Komentar
Posting Komentar